Sabtu, 13 Juli 2013

ARTIKEL ANAKES



ANALISIS KESALAHAN PENGGUNAAN KONJUNGSI DALAM
KARANGAN DESKRIPSI PADA SISWA KELAS VIII MTs. DI KOTA BOGOR


Ahmad Syaeful Rahman, S.Pd.


ABSTRAK
Penelitian ini mengkaji analisis kesalahan penggunaan konjungsi dalam karangan deskripsi siswa kelas VIII salah satu MTs di Kota Bogor. Kesalahan berbahasa merupakan suatu prosedur kerja yang biasa digunakan oleh para peneliti dan guru bahasa, yang meliputi pengumpulan sampel, penjelasan kesalahan tersebut, pengklasifikasian kesalahan itu berdasarkan penyebabnya, serta pengevaluasian atau penilaian taraf keseriusan kesalahan itu. Konjungsi  merupakan kata tugas yang menghubungkan dua satuan bahasa yang sederajat seperti, kata dengan kata, frase dengan frase, atau klausa dengan klausa. Karangan merupakan pemindahan pikiran atau perasaan kedalam bentuk lambang-lambang bahasa. Karangan Deskripsi merupakan bentuk tulisan yang bertujuan memperluas pengetahuan dan pengalaman pembaca dengan jalan melukiskan hakikat objek yang sebenarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk kesalahan penggunaan konjungsi dalam karangan deskripsi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan studi kepustakaan yang bertujuan untuk membuat gambaran, lukisan secara sistematik, faktual, dan akurat mengenai analisis kesalahan penggunaan konjungsi dalam karangan deskripsi siswa kelas VIII MTs X (eks). Teknik pengumpulan data menggunakan dokumentasi dan observasi. Teknik penganalisaan data menggunakan penarikan simpulan persentase. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIII MTs X (eks). Hasil penelitian dapat dikemukakan sebagai berikut: dari hasil penelitian tersebut, peneliti menemukan kesalahan dari dua segi. 1) kesalahan akibat pergeseran fungsi konjungsi. 2) kesalahan akibat cara penggunaan konjungsi. Kesalahan konjungsi terdapat dua kesalahan, yaitu kesalahan konjungsi intrakalimat (konjungsi yang berfungsi menghubungkan kata dengan kata, frase dengan frase, atau klausa dengan klausa yang berada di dalam sebuah kalimat), memiliki persentase berjumlah 3,31 persen dan kesalahan konjungsi antarkalimat (kata atau gabungan kata yang menghubungkan kalimat dengan kalimat atau paragraf dengan paragraf berikutnya), memiliki persentase berjumlah 6,94 persen. 3) kesalahan penulisan karangan, khususnya karangan deskripsi dalam menggunakan konjungsi dapat dipertimbangkan sebagai bahan ajar yang berguna bagi penyusun kurikulum. Sedangkan bagi guru bahasa dan sastra Indonesia, kesalahan penulisan karangan deskripsi dalam menggunakan konjungsi bisa digunakan sebagai contoh dalam pembelajaran menulis.

Kata kunci: Anakes, konjungsi, karangan, karangan deskripsi

 



PENDAHULUAN
Bahasa secara umum dapat diartikan sebagai suatu alat komunikasi yang disampaikan seseorang kepada orang lain agar bisa mengetahui apa yang menjadi maksud dan tujuannya. Bahasa ditempatkan sebagai alat komunikasi manusia untuk mengungkapkan pikiran atau perasaan dengan menggunakan simbol-simbol komunikasi baik yang berupa suara, gestur (sikap badan), atau tanda-tanda berupa tulisan.
Kegiatan menulis, menuangkan konsep-konsep atau ide-ide kedalam suatu tulisan yang menggunakan suatu kaidah-kaidah penulisan yang tepat sesuai dengan bentuk tulisan yang akan dibuat. Kegiatan menulis menuntut siswa untuk dapat melahirkan segala yang dirasakan, dikehendaki, dan dipikirkan penulis untuk dikemukakan kepada orang lain. Dengan menguasai keseluruhan tatanan bahasa itu maka diharapkan akan diperoleh hubungan yang logis antara penguasaan kebahasaan dengan kemampuan mengarang.
Dalam hubungannya dengan pengajaran bahasa Indonesia di sekolah, mengarang merupakan salah satu materi yang diberikan dalam pelajaran menulis, khususnya tentang menulis karangan. Banyak orang menganggap bahwa menulis itu mudah dan tidak perlu dipelajari. Namun pada kenyataannya menulis itu tidak mudah dan banyak hal-hal yang harus diperhatikan dalam menulis. terutama dalam menulis sebuah karangan.
Penggunaan bahasa baik itu orang cerdik, pandai atau pun orang yang sedang belajar dapat menuliskan kalimat-kalimat mereka dengan mudah dan jelas. Memisahkan kata-kata dalam tulisan mereka itu tanpa melihat dan mengetahui dengan benar apakah hal tersebut tepat atau kurang tepat. Pada akhirnya sering ditemukan kesalahan dalam hal penulisan kata, yang menyebabkan timbulnya kalimat yang tidak efektif.
Kridalaksana (2001: 24), mengartikan bahasa sebagai sebuah sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang dipergunakan oleh para anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri. Dalam bahasa terdapat empat keterampilan dasar. Keterampilan tersebut adalah menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Diantara keempat keterampilan tersebut sangatlah berkaitan, saling menunjang, dan saling mendukung”.
Menyangkut dengan kata, kata-kata yang dipergunakan dalam bentuk kalimat harus dipilih dan disesuaikan dengan tepat. Dengan demikian kalimat menjadi jelas maknanya. Begitu juga dalam menulis karangan sebaiknya katakata yang digunakan harus tepat, karena kata merupakan bagian dari bahasa.
Salah satu unsur mengarang ialah bahasa tulis. Dalam bahasa tulis di dalamnya mencakup sejumlah unsur-unsur kebahasaan, yaitu macam-macam huruf, berbagai kata (kata dasar, kata tugas, kata kerja, kata gabung, dan sebagainya), dan tanda baca. Sesuai dengan asas ketepatan unsur kebahasaan itu harus ditulis secara tepat menurut ketentuan yang berlaku.
Berbicara tentang kata tugas, berdasarkan peranannya dalam frase atau kalimat dapat dibagi menjadi beberapa kelompok, diantaranya konjungsi atau kata penghubung. Dalam pemakaian konjungsi dapat digolongkan menjadi beberapa macam. Seperti konjungsi penunjuk gabungan dan, serta, lagi, lagi pula, dan sebagainya.
Dalam karangan khususnya karangan yang ditulis oleh siswa yang sedang mengalami proses belajar, kesalahan-kesalahan penempatan kata khususnya konjungsi masih banyak dilakukan yang akhirnya menghasilkan kalimat yang tidak efektif. Maka penguasaan konjungsi merupakan kemampuan penting bagi siswa agar mampu menulis karangan dengan menempatkan konjungsi yang pada akhirnya menghasilkan kalimat efektif.
Berdasarkan uraian di atas, penelitian mengenai analisis kesalahan penggunaan konjungsi ini dirancang untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk kesalahan penggunaan konjungsi dalam karangan deskripsi siswa MTs kelas VIII.
LANDASAN TEORITIS
Hakikat Kesalahan Berbahasa
Menurut Corder dalam Ramlan (2010), kesalahan berbahasa adalah pelanggaran terhadap kode berbahasa. Pelanggaran ini bukan hanya bersifat fisik, melainkan juga tanda kurang sempurnanya pengetahuan dan penguasaan terhadap kode. Si pembelajar bahasa belum menginternalisasikan kaidah bahasa (kedua) yang dipelajarinya. Dikatakan pula oleh Corder bahwa baik penutur asli maupun bukan penutur asli sama-sama mempunyai kemungkinan berbuat kesalahan berbahasa. Arifin dan Hadi (1993:10) berpendapat “Bahasa yang baik dan benar adalah bahasa Indonesia yang digunakan sesuai dengan norma kemasyarakatan yang berlaku dan sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang berlaku”.
Analisis keslahan menurut Ellis dalam Fahchrozi (2013), berpendapat “Analisis kesalahan adalah suatu prosedur kerja yang biasa digunakan oleh para peneliti dan guru bahasa, yang meliputi pengumpulan sampel, penjelasan kesalahan tersebut, pengklasifikasian kesalahan itu berdasarkan penyebabnya, serta pengevaluasian atau penilaian taraf keseriusan kesalahan itu”.
Tujuan dilakukannya analisis kesalahan adalah: menentukan urutan bahan ajaran; menentukan urutan jenjang penekanan bahan ajaran; merencanakan latihan dan pengajaran remedial; memilih butir pengujian kemahiran siswa.

Hakikat Konjungsi
Menurut Widjono Hs (2007: 151), berpendapat bawha “Konjungsi adalah bagian kalimat yang berfungsi menghubungkan unsur-unsur kalimat dalam sebuah kalimat (yaitu subjek, predikat, objek, pelengkap, dan keterangan), sebuah kalimat dengan kalimat, dan (atau) sebuah paragraf dengan paragraf yang lain”. Sedangkan Alwi dan kawan-kawan (2003: 296), berpendapat “Konjungsi atau kata sambung adalah kata tugas yang menghubungkan dua satuan bahasa yang sederajat: kata dengan kata, frasa dengan frasa, atau klausa dengan klausa”. Hal senada juga dikemukakan oleh Chaer (2009: 169) bahwa “Konjungsi adalah leksem-leksem tertentu yang bertugas menghubungkan, baik kata dengan kata, frase dengan frase, klausa dengan klausa, maupun kalimat dengan kalimat secara koordinatif maupun secara subordinatif”.

Hakikat Karangan
Menurut Suparno dan Yunus (2006: 31) berpendapat “menulis atau mengarang pada hakekatnya merupakan mengungkapkan atau menyampaikan gagasan dengan bahasa tulisan”. Membaca pengertian di atas proses menulis atau mengarang merupakan salah satu cara berkomunikasi antara penulis dan pembaca. Digunakan istilah menulis atau mengarang pada pengertian di atas, disebabkan tidak ada perbedaan dari kedua istilah kata tersebut. Menulis merupakan padanan tersebut digunakan untuk mencegah kesenadaan atau rasa kebahasaan.
 Pendapat di atas, jelas bahwa mengarang merupakan proses kegiatan seseorang menuangkan gagasannya dalam bentuk bahasa tulisan. Karangan adalah hasil dari perwujudan gagasan tersebut atau hasil dari mengarang.
1. Langkah-langkah Menulis Karangan
Langkah-langkah mengarang menurut Suparno dan Yunus (2006: 3.43) terdiri dari: a) memilih bahan pembicaraan (topik);          b) menentukan tema dari bahan pembicaraan itu; c) menentukan tujuan karangan yang akan dibuat serta bentuk karangan;                d) menentukan pendekatan terhadap tema pembicaraan; e) membuat bagan atau rencana pembicaraan; f) pandai memulai karangan;     g) pandai membangun paragraf dan menjalin kesinambungan paragraph; h) pandai mengakhiri atau menutup karangan; i) pandai membuat judul karangan”. Adapun Akhadiat dan kawan-kawan (2003: 6-25), membagi langkah-langkah menulis karangan menjadi enam yaitu: a) pemilihan topic;                      b) pembatasan topic; c) topik dan judul;        d) tujuan penulisan; e) bahan penulisan;         f) kerangka karangan“.

Hakikat Karangan Deskripsi
1. Pengertian Deskripsi
Menurut Rasjid Sartuni, dkk. (2000: 76), “Deskripsi adalah melukiskan dengan bahasa”. Deskripsi digunakan untuk menyampaikan kesan yang dihasilkan oleh segi-segi tentang seseorang, suatu tempat, suatu pemandangan. Seseorang dapat melukiskan atau menggambarkan dengan menggunakan sebuah bahasa yang dituangkan dalam tulisan.  Menurut Maimunah (2007: 46), “Deskripsi adalah melukiskan atau menggambarkan sesuatu dengan bahasa tentang suatu hal atau peristiwa secara obyektif”.
2. Jenis Deskripsi
Secara garis besar dapat dibedakan dua jenis karangan deskripsi yaitu karangan deskripsi ekspositoris (deskripsi teknis), dan deskripsi artistik (deskripsi impresionistik atau sugestif). Tentang kedua jenis karangan deskripsi ini, Suparno dan Yunus (2006:4.8) berpendapat sebagai berikut:
a.       Deskripsi ekspositoris bertujuan menjelaskan sesuatu dengan perincian yang jelas sebagaimana adanya tanpa menekankan unsur impresi atau sugesti pada pembaca. Bahasa yang digunakan adalah bahasa yang formal dan lugas.
b.      Deskripsi artistik adalah deskripsi yang mengarah kepada pemberian pengalaman kepada pembaca bagaikan perkenalan langsung dengan objek yang disampaikan, dengan jalan menciptakan sugesti dan impresi.

METODE PENELITIAN
Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif dengan studi kepustakaan. Penelitian dilakukan di salah satu MTs di kota Bogor. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII MTs X (eks) di kota Bogor, adapun sampel yang digunakan adalah siswa kelas VIII-A yang berjumlah 30 siswa. Teknik pengolahan data pada penelitian ini yaitu dengan menghimpun dan menganalisis dokumen (karangan siswa) dan mengobservasi kegiatan siswa.

HASIL DAN PEMBAHASAN
1.    Analisis Data
Dari hasil penelitian, peneliti menemukan kesalahan dari dua segi. Pertama kesalahan akibat pergeseran fungsi konjungsi, kedua kesalahan akibat cara penulisan konjungsi. Berikut ini peneliti uraikan kesalahan tersebut satu persatu.
a)        Kesalahan akibat pergeseran fungsi konjungsi.
1)      Anak kijang sedang berlari mencari induknya yang hilang.
2)      Teman sebayaku sedang menggenggam sebuah pancing. Kata sedang sebenarnya berfungsi sebagai penunjuk aspek, karena pergeseran fungsi maka kata sedang dapat berfungsi sebagai kata penghubung seperti pada kalimat di atas.
3)      Setelah kami kecapean dan sudah berkeliling melihat pemandangan, kami beristirahat. Kata setelah berasal dari kata telah, yang berfungsi sebagai penunjuk aspek. Karena pergeseran fungsi dan ditambah dengan awalan se- maka kata tersebut berubah menjadi kata penghubung. Demikian juga dengan kata sudah.
4)      Sesudah itu saya duduk dengan teman-teman di bawah pohon. Kata sesudah berasal dari kata sudah, yang berfungsi sebagai penunjuk aspek. Karena pergeseran fungsi dan ditambah dengan awalan se- maka kata tersebut berubah menjadi kata penghubung.
5)      Rasa dingin itu menjadi hilang. Antara kata rasa dingin dan hilang dihubungkan dengan kata menjadi. Di sini telah terjadi pergeseran fungsi kata tersebut menjadi kata penghubung. Dalam kenyataan menjadi banyak digunakan dalam pembelokkan arti tertentu. Contoh: keadaan telah berubah menjadi lebih baik.
6)      Ayah sedang membaca koran di teras depan rumah.


Tabel 1
Format Kesalahan Penggunaan Konjungsi
Nama Siswa
Penulisan yang salah
Jumlah
Penulisan yang tepat
Jenis Konjungsi
*Kj. 1
*Kj. 2
Andi
ingin tinggal
lama lagi dengan
mereka yang
berkumpul
dengan yang
lain.

sekedar
kenangan untuk
dimasa yang
akan tiba.

2
ingin tinggal lama
lagi dengan mereka
dan berkumpul
dengan yang lain.



sekedar kenangan
untuk masa yang akan
datang.
Hani







aku ke masjid
dan
menjalankan
kewajibanku
sebagai umat
islam.
terdengar bel
berbunyi dan
semua siswa
masuk dan
mengikuti
pelajaran.







dan pulang dari
masjid.
3
terdengar bel berbunyi dan semua
siswa masuk untuk mengikuti
semua pelajaran.


aku ke masjid untuk menjalankan
kewajibanku sebagai umat islam.


setelah pulang dari masjid.
Nina
-
-
-
-
Nia
-
-
-
-
Ajay
dia
memelihara
segala
pepohonan
dan keindahan
alam.

1
dia memelihara segala pepohonan
untuk keindahan alam.
Ayu
seorang anak
kecil
mendapat
kecelakaan
dengan
tertabrak
mobil.








setelahnya saya
pulang dari
pasar.
2
seorang anak kecil mendapat
kecelakaan karena tertabrak
mobil.



setelah saya pulang dari pasar.
Hesti
Sayang rumah
kami jauh
dengan laut.

1
Sayang rumah kami jauh dari
laut.
Hana








lalu melihat
museum pada
zaman
manusia
purba.
setelah sampai
ke Jakarta lalu
turun dari
kereta lalu
sampailah di
Istiqlal.
2
setelah sampai ke Jakarta lalu
turun dari kereta kemudian
sampailah di Istiqlal.



setelah itu melihat museum pada
zaman manusia purba.
Diana
kami diam
dulu sebentar
dan
mendengarkan
lomba adzan.

serta kami
akan ke luar.







kami mampir
dulu ke monas
dan kami
melihat.








sesudahnya
shalat ashar.

tetapi sesudah
kami
berkunjung ke
monas.
5
kami diam dulu sebentar untuk
mendengarkan lomba adzan.


ketika kami akan ke luar.

setelah shalat ashar.


akan tetapi setelah kami
berkunjung ke monas.


kami singgah dulu ke monas
untuk melihat.
Dina
-
-
-
-
Seli

maka dengan itu
kita harus
bersyukur.

maka dengan itu
kita akan
terhindar dari
banjir.
2
oleh sebab itu kita harus
bersyukur.


maka dari itu kita akan terhindar
dari banjir.
Icha
Ibuku mempersiapkan
sarapan pagi, sesudahnya
sarapan.

1
banyak sekali pohon-pohon
yang subur, daun-daun yang
hijau, tempatnya bersih dan
tidak kotor.
Dinda

saya semakin
kesal, terus saya
membiarkannya.
1
saya semakin kesal, kemudian
saya membiarkannya.
Shodikul
banyak sekali
pohon-pohon
yang subur,
daun-daun
yang hijau,
tempatnya
bersih serta
pula tidak
kotor.

1
banyak sekali pohon-pohon
yang subur, daun-daun yang
hijau, tempatnya bersih dan
tidak kotor.
Daud
-
-
-
-
Angga
dan sesudah
merasa cape.

1
setelah merasa lelah.
Delia






dimana saya
dan ibu
berdiri.
pergi ke suatu
tempat

dimana
tempat itu
sangat ramai.
setelah kami
kecapean dan
sudah
berkeliling
melihat
pemandangan.
3
setelah kami merasa lelah karena
berkeliling melihat pemandangan.


di mana saya dan ibu berdiri.




pergi ke suatu tempat di mana
tempat itu sangat ramai.
Wilda
-
-
-
-
Ika

sesudah saya
kenyang melihat
pemandangan.

terus kami
menceritakannya
kembali.

terus saya
berjalan.
3
setelah puas melihat
pemandangan.


kemudian kami menceritakan
kembali.

kemudian saya berjalan.
Izal
-
-
-
-
Deby
terdengar
suara burungburung
sedang
terbang
dilangit.

1
terdengar suara burung-burung
yang asyik terbang di langit.
Mei
-
-
-
-
Nia
-
-
-
-
Erica
-
-
-
-
Rudianto
-
-
-
-
Nurma
-
-
-
-
Ghina
pemandangan
di sana sangat
indah dan
sejuk dan
nyaman.

dan
lingkungan
dan
tempatnya.

2
pemandangan di sana sangat
indah dan sejuk serta nyaman.


lingkungan serta tempatnya.
Nabila
sambil makanmakanan
yang
ringan.

1
sambil makan-makanan ringan.
Erga

sudah pulang
dari kebun
raya.
1
setelah pulang dari kebun raya.
Algi
-
-
-
-


Keterangan :
*Konjungsi 1 : Konjungsi intrakalimat (konjungsi yang berfungsi menghubungkan kata dengan kata, frase dengan frase, atau klausa dengan klausa yang berada di dalam sebuah kalimat).
*Konjungsi 2 : Konjungsi antarkalimat (kata atau gabungan kata yang menghubungkan kalimat dengan kalimat atau paragraf dengan paragraph berikutnya).
 Jumlah            :   Jumlah
Berdasarkan data hasil analisis kesalahan penggunaan konjungsi dalam karangan deskripsi siswa kelas VIII sebanyak 33 kesalahan penggunaan konjungsi dalam karangan deskripsi dari 30 siswa. Data kesalahan penggunaan konjungsi dalam karangan deskripsi menunjukkan bahwa kesalahan penggunaan konjungsi intrakalimat sebanyak 18 kesalahan atau 3,31%, kesalahan penggunaan konjungsi antarkalimat sebanyak 15 kesalahan atau 6,94%. Dengan demikian hasil tertinggi dari hasil analisis kesalahan penggunaan konjungsi adalah konjungsi intrakalimat dengan 3,31% dari 30 siswa dan hasil terendah dari hasil analisis kesalahan penggunaan konjungsi adalah konjungsi antarkalimat dengan 6,94% dari 30 siswa.
Dari hasil penelitian, kesalahan konjungsi dalam karangan deskripsi siswa dibagi menjadi dua bagian yaitu kesalahan pada konjungsi intrakalimat dan kesalahan konjungsi antarkalimat. Pada kesalahan penggunaan konjungsi intrakalimat berfungsi menghubungkan kata dengan kata, frase dengan frase, klausa dengan klausa yang berada di dalam sebuah kalimat. Dengan demikian siswa yang menulis karangan deskripsi dengan menggunakan konjungsi intrakalimat belum bisa menggunakan konjungsi intrakalimat dalam tulisan karangannya.
Beberapa bentuk penulisan kesalahan penggunaan konjungsi intrakalimat pada siswa yang peneliti lakukan sebagai berikut. Aku ke masjid dan menjalankan kewajibanku sebagai umat islam. Penulisan yang tepat pada kesalahan penggunaan konjungsi intrakalimat sebagai berikut. Aku ke masjid untuk menjalankan kewajibanku sebagai umat muslim. Penulisan kesalahan penggunaan konjungsi intrakalimat sebagai berikut. Seorang anak kecil mendapat kecelakaan dengan tertabrak mobil. Penulisan yang tepat pada kesalahan konjungsi intrakalimat sebagai berikut. Seorang anak kecil mendapat kecelakaan karena tertabrak mobil.
Pada kesalahan penggunaan konjungsi antarkalimat berfungsi menghubungkan gabungan kata yang menghubungkan kalimat dengan kalimat atau paragraf dengan paragraf. Dengan menggunakan konjungsi antarkalimat, siswa dapat menulis karangan dengan menggunakan konjungsi dengan baik tanpa adanya kesalahan dalam penggunaannya, terutama pada penggunaan konjungsi antarkalimat. Siswa dapat menggunakan konjungsi antarkalimat dalam tulisannya atau karangannya tanpa ada lagi kesalahan yang siswa buat.
Beberapa bentuk penulisan kesalahan penggunaan konjungsi antarkalimat pada siswa yang peneliti lakukan sebagai berikut. Setelah sampai ke Jakarta lalu turun dari kereta lalu sampailah di Istiqlal. Penulisan yang tepat pada kesalahan penggunaan konjungsi antarkalimat sebagai berikut. Setelah sampai ke Jakarta lalu turun dari kereta kemudian sampailah di Istiqlal. Penulisan kesalahan penggunaan konjungsi antarkalimat sebagai berikut. Maka dengan itu kita akan terhindar dari banjir. Penulisan yang tepat pada kesalahan konjungsi antarkalimat sebagai berikut. Maka dari itu kita akan terhindar dari banjir.

SIMPULAN
Berdasarkan analisis data dan pembahasan dalam penelitian ini, diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
1)      Kesalahan penggunaan konjungsi yang ditemukan dalam penelitian ini adalah kesalahan akibat pergeseran fungsi dan kesalahan akibat cara penempatan atau penulisan konjungsi kurang tepat.
2)      Hasil analisis kesalahan penggunaan konjungsi dalam karangan deskripsi siswa kelas VIII sebanyak 33 kesalahan penggunaan konjungsi dalam karangan deskripsi dari 30 siswa. Data kesalahan penggunaan konjungsi dalam karangan deskripsi menunjukkan bahwa kesalahan penggunaan konjungsi intrakalimat sebanyak 18 kesalahan, kesalahan penggunaan konjungsi antarkalimat sebanyak 15 kesalahan. Dengan demikian hasil tertinggi dari hasil analisis kesalahan penggunaan konjungsi adalah konjungsi intrakalimat dengan 18 dari 30 siswa dan hasil terendah dari hasil analisis kesalahan penggunaan konjungsi adalah konjungsi antarkalimat dengan 15 dari 30 siswa.
3)      Kesalahan penulisan karangan, khususnya karangan deskripsi dalam menggunakan konjungsi dapat dipertimbangkan sebagai bahan ajar yang berguna bagi penyusun kurikulum. Sedangkan bagi guru Bahasa dan Sastra Indonesia, kesalahan penulisan karangan deskripsi dalam menggunakan konjungsi bisa digunakan sebagai contoh dalam pembelajaran menulis.

DAFTAR PUSTAKA

Akhadiat, S. dkk. Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga. 2003.

Alwi, H. dkk. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. 2003.

Arifin, E. Z. dan Hadi, F. 1001 Kesalahan Berbahasa. Jakarta: Akademika Pressindo. 1993.

Chaer, A. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: PT. Rineka Cipta. 2009.

Hs, Widjono. Bahasa Indonesia Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi. Jakarta: Grasindo, 2007.

Irwan Fachrozi, http://ml.scribd.com/doc/ 47010603/kesalahan-berbahasa,diunduh pada 15 Juli 2013 Pkl. 20.00

Kridalaksana, H. Kamus linguistik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 2001.
Maimunah, S. A. Buku Pintar Bahasa Indonesia. Jakarta: Prestasi Pustaka. 2007.

Sartuni, R. dkk. Bahasa Indonesia Untuk Perguruan Tinggi. Jakarta: Nina Dinamika. 2000.

Suparno dan Yunus, M. Keterampilan Dasar Menulis. Jakarta: Universitas Terbuka. 2006.