PRINSIP-PRINSIP
PENGAJARAN BAHASA
A.
Macam-macam Prinsif Pembelajaran
Prinsip Pengajaran Bahasa Menurut Brown ada
12 dan terbagi dalam 3 tema yaitu Prinsif Kognitif, Prinsip Afektif dan Prinsip
Linguistik, sebagai berikut:
1. Prinsip
Kognitif
Menurut
Brown, ada lima prinsif kognitif, yaitu: Otomatisasi, Pembelajaran Bermakna,
Antisipasi Penghargaan, Motivasi Intrinsik, dan Strategi Investasi.
a. Otomatisasi
Otomatis
berarti bahwa pembelajar bahasa kedua diharapkan memperoleh bahasa keduanya
seperti anak-anak yang sedang belajar bicara,
mengucapkan sepatah demi sepatah kata tanpa memfokuskan struktur bahasa,
sehingga jika ini terus menerus dilakukan maka bahasanya akan menjadi lancar
dan otomatis.
Implikasi Prinsip Otomatisasi pada Pembelajaran, antara
lain:
1. Biasanya pembelajaran bahasa dimulai dengan
pengenalan pada sistem bahasa (struktur, fonologi, wacana, dll.)
2.
Pastikan pembelajaran bahasa berfokus pada penggunaan bahasa. Gunakan bahasa
yang otentik pada setiap kesempatan (Hadley: 2001).
b.
Pembelajaran Bermakna
Brown (2007) mengatakan bahwa situasi
pembelajaran bisa bermakna jika (1) pembelajar memiliki perangkat pembelajaran
bermakna, yaitu sebuah kecenderungan untuk mengaitkan kegiatan pembelajaran
baru dengan apa yang telah mereka ketahui, dan (2) kegiatan pembelajaran itu
sendiri punya kemungkinan bermakna bagi pembelajar, yaitu bisa dihubungkan
dengan struktur pengetahuan pembelajar. Proses pada pembelajaran bermakna mirip
dengan pendekatan pemrosesan informasi yang menyatakan bahwa murid mengolah
informasi, memonitornya, dan menyusun strategi berkenaan dengan informasi
tersebut. Inti dari pendekatan ini adalah proses berpikir. (Santrock: 2007).
Beberapa
implikasi dari prinsip pembelajaran bermakna pada pembelajaran, antara lain:
1. Ajak siswa berbicara tentang bakat, minat,
harapan, dan pandangan mereka tentang
sesuatu agar mereka terdorong untuk berbicara.
2. memberikan scaffolding, menjembatani
siswa dengan pengetahuan sebelumnya sebelum memperkenalkan pengetahuan selanjutnya,
agar siswa dapat mengikuti pembelajaran dengan mudah.
c.
Antisipasi
Penghargaan
Reward (penghargaan) dalam
pembelajaran merupakan salah satu alasan yang membuat pembelajar termotivasi
dan semangat. Beberapa implikasi dari prinsip ini pada pembelajaran, antara
lain:
1. memberikan reinforcement dalam bentuk
verbal (pujian) atau nonverbal (acungan
jempol)
2. Beri dorongan pada siswa untuk saling
memuji atau memberikan motivasi.
3. Pada kelas dengan tingkat motivasi
yang sangat rendah, guru dapat memberikan reward berupa gambar atau sticker
lucu agar siswa lebih termotivasi.
d.
Motivasi
Intrinsik dan Ekstrinsik
Edward Deci (1975, h. 23) dalam
bukunya Brown mendefinisikan motivasi intrinsik adalah aktivitas-aktivitas yang
termotivasi secara intrinsik adalah aktvitas yang untuk itu tidak ada imbalan
yang jelas kecuali aktivitas itu sendiri......perilaku-perilaku yang
termotivasi secara intrinsik dimaksudkan untuk mewujudkan
konsekuensi-knsekuensi tertentu yang memberikan imbalan secara internal, yaitu
perasaan kompeten dan menentukan nasib sendiri.
Contoh motivasi intrinsik: murid
belajar menghadapi ujian karena dia senang pada mata pelajaran yang diujikan
itu. (Santrok: 2007). Reward yang paling kuat adalah yang berasal dari diri
sendiri. Motivasi Ekstrinsik dirangsang oleh pengharapan terhadap imbalan dari
luar atau diluar diri. Imbalan-imbalan ekstrinsik yang lazim adalah uang,
hadiah, nilai ujian dan lain sebagainya.
e.
Investasi Strategi
Investasi pembelajar dalam mempelajari
bahasa kedua berdasarkan usaha dan waktu yang digunakan oleh pembelajar, serta
setiap pembelajar mempunyai metode dan strategi yang berbeda dalam belajar.
Beberapa implikasi dari prinsip strategi investasi pada pembelajaran:
1. Memberikan perhatian yang sama pada semua siswa.
2. Mengetahui gaya belajar masing masing siswa.
3. Menggunakan teknik pengajaran yang bervariasi disesuaikan dengan gaya belajar para siswa.
Beberapa implikasi dari prinsip strategi investasi pada pembelajaran:
1. Memberikan perhatian yang sama pada semua siswa.
2. Mengetahui gaya belajar masing masing siswa.
3. Menggunakan teknik pengajaran yang bervariasi disesuaikan dengan gaya belajar para siswa.
2.Prinsif Sosio- Afektif
Belajar
merupakan upaya sadar untuk mencapai perubahan perilaku secara keseluruhan yang
meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Aspek afektif memegang
peranan yang penting dalam menentukan tingkat kesuksesan dalam belajar,
bekerja, ataupun kegiatan yang lainnya. Afeksi mengacu kepada emosi atau
perasaan. Ranah afektif adalah sisi emosional dalam perilaku manusia, dan dapat
disandingkan dengan sisi kognitif. Emosi atau perasaan seseorang dipengaruhi
oleh beberapa faktor kepribadian, perasaan tentang diri sendiri maupun tentang
orang lain yang berhubungan dengan dirinya. Banyak variabel yang terlibat dalam
mengkaji sisi emosional perilaku manusia dalam proses pembelajaran bahasa
seperti rasa harga diri, rasa percaya diri, kenal akan diri sendiri, dan
percaya akan kemampuan diri sendiri (Brown, 2008:166-167)
empat
prinsip pengajaran bahasa afektif, keempatnya ditandai dengan adanya
keterlibatan emosional, baik secara pribadi sebagai pelajar atau yang
berhubungan dengan orang lain sebagai makhluk sosial.
1.
Ego
Bahasa (Language Ego): mengembangkan identitas kedua
Seseorang
belajar untuk menggunakan bahasa kedua, maka ia juga mengembangkan identitas
kedua (cara berpikir, merasa, dan bertindak) terkait dengan bahasa kedua yang
dia gunakan. Jika siswa belajar bahasa Inggris sebagai bahasa kedua, mereka
akan mengalami krisis identitas karena mereka sedang mengembangkan identitas
kedua. Kadang kala siswa merasa bingung karena mereka kurang memahami budaya
dan cara hidup penutur asli bahasa kedua tersebut. Misalnya, siswa merasa
dirinya konyol atau dipermalukan ketika dia membuat kesalahan dalam pemilihan
kata atau tata bahasa dalam berkomunikasi. Dalam hal ini siswa akan merasa
rapuh, defensif dan menimbulkan berbagai hambatan. Implikasi dalam pengajaran:
·
Guru
selalu bersikap mendorong siswa untuk tidak cemas dalam menggunakan bahasa
target yaitu dengan mengemas materi pelajaran.
·
Brown (2001: 62) menegaskan bahwa karena
adanya unsur kerapuhan pada diri siswa dalam belajar bahasa, maka guru
seharusnya memperlakukan mereka dengan penuh kelembutan dan sikap yang bijak.
Dalam hal ini, kesabaran dan pengertian diperlukan untuk menahan emosi mereka
sehingga dapat mempermudah proses penguasaan bahasa kedua tersebut.
2.
Percaya
Diri (Self Confidence): keberhasilan siswa tergantung percaya diri atau tidak
siswa tersebut (keyakinan pembelajar akan kemampuannya). Implikasinya terhadap
pengajaran yaitu:
3.
Pengambilan
Resiko (Risk-Taking): menumbuhkan keberanian siswa agar tidak takut menggunakan
bahasa target. Prinsip ini menyarankan agar siswa dibiasakan untuk berani
mengambil resiko dalam menggunakan bahasanya dengan tidak takut berbuat salah.
Implikasinya dalam pengajaran:
·
Guru
harus kreatif dalam menciptakan atmosfir kelas yang kondusif untuk mendorong
siswa agar secara tidak sadar memaksa dirinya untuk menggunakan bahasa target.
·
Guru
juga dapat menyediakan tantangan yang masuk akal yang tidak mudah dan tidak
terlalu sulit. Seperti menantang siswa membuat teka-teki menggunakan bahasa
target.
4.
Hubungan
Bahasa dan Budaya (The Language-Culture Connection)
Bahasa dan budaya merupakan dua hal yang tak terpisahkan karena bahasa termasuk bagian dari budaya, sehingga menjadi sangat penting dalam pembelajaran bahasa kedua. Sebaliknya, bahasa juga merupakan faktor penting dalam pengembangan dan pemertahanan budaya. Budaya melibatkan sikap, nilai, keyakinan, norma, dan perilaku yang dianut bersama oleh sebuah kelompok tetapi dijaga secara berbeda oleh setiap unit spesifik di dalam kelompok yang bersangkutan, dikomunikasikan lintas generasi, relatif stabil tetapi mempunyai peluang untuk berubah seiring waktu (Matsumoto, 2000 dalam Brown, 2007:206-207). Implikasinya dalam pengajaran:
Bahasa dan budaya merupakan dua hal yang tak terpisahkan karena bahasa termasuk bagian dari budaya, sehingga menjadi sangat penting dalam pembelajaran bahasa kedua. Sebaliknya, bahasa juga merupakan faktor penting dalam pengembangan dan pemertahanan budaya. Budaya melibatkan sikap, nilai, keyakinan, norma, dan perilaku yang dianut bersama oleh sebuah kelompok tetapi dijaga secara berbeda oleh setiap unit spesifik di dalam kelompok yang bersangkutan, dikomunikasikan lintas generasi, relatif stabil tetapi mempunyai peluang untuk berubah seiring waktu (Matsumoto, 2000 dalam Brown, 2007:206-207). Implikasinya dalam pengajaran:
·
Guru
bahasa dapat membahas perbedaan lintas-budaya dengan siswa dengan menekankan
bahwa tidak ada budaya yang lebih baik daripada budaya yang lain dan menekankan
bahwa mempelajari budaya bahasa target adalah penting untuk praktiknya nanti.
·
Guru
juga dapat menggunakan bahan-bahan tertentu yang menggambarkan hubungan antara
bahasa dan budaya serta membahas aspek sosiolinguistik bahasa.
3.
Prinsip-prinsip Linguistik
Prinsip
ini berpusat pada bahasa itu sendiri dan bagaimana peserta didik memahami
sistem linguistik yang kompleks. Berdasarkan teori-teori kebahasaan, dirumuskan
prinsip-prinsip mengenai pengajaran bahasa, antara lain kemampuan berbahasa
adalah sebuah proses kreatif.
Ada tiga prinsip pengajaran bahasa linguistik, yaitu prinsip pengaruh bahasa ibu, prinsip antarbahasa, dan prinsip kompetensi komunikatif.
Ada tiga prinsip pengajaran bahasa linguistik, yaitu prinsip pengaruh bahasa ibu, prinsip antarbahasa, dan prinsip kompetensi komunikatif.
·
Pengaruh
Bahasa Ibu atau Bahasa Pertama (menekankan pentingnya bahasa ibu) Bahasa ibu
mempunyai pengaruh yang kuat terhadap akuisisi sistem bahasa target. Pengaruh
ini dapat bersifat mendukung atau mengganggu proses produksi dan pemahaman
bahasa yang baru, dan ternyata efek mengganggu cenderung lebih menonjol.
Implikasi
pengaruh bahasa ibu dalam pengajaran:
1.
Guru seharusnya mengagap kesalahan siswa sebagai jendela yang menjadi dasar
dalam memberikan umpan balik yang tepat kepada siswa. Setiap kesalahan yang
dilakukan oleh siswa harus dikomentari oleh guru dan diberi penjelasan tentang
hal yang sebenarnya.
·
Antar
Bahasa (Interlanguage) atau disebut antar bahasa: Interlanguage berasal dari
kata inter dan language yang menekankan adanya pengaruh bentuk-bentuk bahasa
terhadap bahasa yang lain. interlanguage
adalah bahasa yang kedudukannya berada diantara bahasa ibu dan bahasa sasaran
yang sedang dipelajari (Namser, 1972, Selinker 1972). Pembelajar bahasa kedua
cenderung mendapatkan pengaruh dari bentuk-bentuk bahasa terdahulu saat mereka
berusaha untuk menguasai bahasa kedua. Terkadang bahasa asli ditransfer secara
negatif, maka terjadilah interferensi. Implikasi dalam pengajaran:
1. Guru membedakan antara kesalahan
interlanguage dan kesalahan lainnya.
2. Memberi toleransi untuk bentuk
kesalahan interlanguage tertentu yang mungkin timbul dari proses perkembangan
logis siswa.
·
Kompetensi
Komunikatif (CC) dalam Prinsip-prinsip
Pengajaran Bahasa (Brown) Kompetensi komunikatif diciptakan oleh Dell Hymes
(1972, 1967) seorang pakar sosiolinguistik. Hymes menyebutkan CC sebagai aspek
kompetensi yang memungknkan kita menyampaikan dan menafsirkan pesan antar
personal dalam konteks-kontek tertentu. Savigon mengatakan bahwa CC itu
relatif, tidak mutlak, dan tergantung pada kerja sama semua partisipan yang
terlibat. CC menekankan bahwa kompetensi komunikatif merupakan tujuan dari
kelas bahasa. Beberapa hal yang harus menjadi pertimbangan dalam menerapkan
prinsip ini dalam kelas bahasa:
1 Penjelasan tata bahasa hanya bagian
dari sebuah pelajaran atau kurikulum, sehingga jangan mengabaikan komponen
penting lainnya (misalnya, fungsional, sosiolinguistik, psikomotor, dan
strategis) dari kompetensi komunikatif.
2 Jangan lupa mengajarkan kemampuan
psikomotor (pengucapan) karena terlalu antusias mengajar aspek fungsional dan
sosiolinguistik. Misalnya, melatih pronunciation dan intonasi berbicara dalam
bahasa target.
3. Pengajaran bahasa menekankan pada
autentisitas, interaksi, dan komunikasi untuk kepentingan sehari-hari.
Contohnya mengajarkan bagaimana cara menanyakan informasi dalam bahasa target
dan lain sebagainya.
4. Siswa harus memiliki kesempatan untuk
mendapatkan kefasihan dalam bahasa Inggris tanpa harus terus waspada terhadap
kesalahan-kesalahan kecil karena sesungguhnya mereka belajar dari
kesalahan-kesalahan itu.
5. Mempersiapkan siswa menjadi pembelajar
mandiri nantinya ketika sudah selesai dari kelas yang guru ajarkan.
B.
Prinsip
Pengajaran B2 Menurut Hadley
Hadley menyebut prinsip ini sebagai hipotesis
karena prinsif-prinsif itu masih terus berkembang dan direvisi.
Prinsif-prinsif tersebut sebagai berikut;
Hipotesis 1: pelajar harus diberi kesempatan
untuk berlatih menggunakan bahasa dalam konteks pemakaian yang ada dalam bahasa
target itu dan mempraktekkan pengetahuannya berdasarkan situasi kehidupan
Konsekuensi:
Ø Pelajar
harus didorong berbicara dengan B2 sedini mungkin yaitu segera setelah mereka
mendapatkan pelajaran keterampilan produktif.
Ø Menciptakan kesempatan untuk melakukan
interaksi komunikatif yang aktif antar pelajar dikelas yang berorientasi pada
kemahiran latihan bahasa kreatif (yang dipertentangkan latihan konvergen) perlu
digalakkan sedapat mungkin yang digunakan dalam pengajaran adalah bahasa yang
autentik
Hipotesis 2: Pelajar harus diberikan kesempatan untuk
menggunakan berbagai fungsi bahasa yang mungkin diperlukan untuk bergaul dengan
orang lain dalam budaya target
Hipotesis
3: Pengembangan ketetapan bahasa harus digalakkan dalam pengajaran yang
berorientasi kemahiran. Pada waktu pelajar menggunakan bahasa balkan instruktur
dan evaluatif sangat membantu dalam memudahkan pelajar dalam menguasai
pemakaian bahasa yang tepat dan koheren, banyak yang percaya bahwa pengajaran
dan umpan balik memberikan dampak yang positif terhadap perolehan B2,
Hipotesis
4: Intruksi harus responsif terhadap afektif dan kebutuhan kognitif siswa dan
perbedaan kepribadian mereka, gaya belajar harus diperhitungkan.
Hipotesis
5: pemahaman budaya perlu diupayakan dengan berbagai cara sehingga pelajar peka
terhadap budaya lain serta siap untuk
hidup harmonis dalam masyarakat B2.
- Prinsip Pengajaran Bahasa Indonesia
[1]Prinsip-prinsif
Pengajaran Bahasa Indonesia menurut Purnomo, dalam Makalah Septia Sugiarsih sebagai
berikut:
1.
Prinsip Apresiatif
Prinsip
apresiatif lebih ditekankan pada pembelajaran sastra. Apresiatif dimaknai yang
“menyenangkan”. Jadi prinsip apresiatif berarti prinsip pembelajaran yang
menyenangkan.
2.
Prinsif Integratif (belajar bahasa hendaknya
tidak terpisah-pisah)
3.
Prinsip Fungisional
Prinsip
pembelajaran bahasa yang fungsional,
yaitu pembelajaran bahasa harus dikaitkan
dengan fungsinya, baik dalam berkomunikasi maupun dalam memenuhi keterampilan untuk hidup
(Purnomo, 2002: 10-11).
Salah
satu hakikat bahasa adalah suatu sistem. Hal tersebut berarti suatu keseluruhan
kegiatan yang satu dengan yang lainnya saling berkaitan untuk mencapai tujuan
berbahasa yaitu berkomunikasi. Subsistem bahasa adalah fonologi, morfologi,
sintaksis, dan semantik. Keempat subsistem ini tidak dapat berdiri
4.
Prinsip Kontekstual
Purnomo
(2002:10) kontekstual adalah pembelajaran yang dilakukan secara konteks, baik
konteks linguistik maupun konteks nonlinguistik. Pembelajaran yang mengaitkan
materi yang diajarkan dengan dunia nyata peserta didik dan mendorong peserta
didik membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan pengetahuan
dalam kehidupan sehari-hari, Depdiknas (2002:5). Mampu berkomunikasi baik
secara lisan dan tulisan.
D.
Metode Pengajaran Bahasa (Metode Tradisional)
1. Metode
Grammar-Translation
Metode Grammar–translation sudah diterapkan
sebelum abad 19 century dan diawal abad 20 century. Metode ini membantu
pembelajar memahami bahasa native language dalam mempelajari grammar dan
menterjemahkan bahasa.
Karakteristik metode grammar-translation sebagai berikut:
- Pelajar
pertama kali belajar tata bahasa dan kosa kata yang berkaitan dengan membaca.
Grammar dipelajari
2. Direct
Method: belajar bahasa kedua harus mirip dengan pembelajaran bahasa pertama, yaitu
banyak interaksi lisan/ dialog lisan. Metode ini, berdasar
pada premis bahwa bahasa kedua(L2) sebaiknya dipelajari dengan cara yang sama
seperti pemerolehan bahasa pertamaL1.
[1]
Septia
Sugiarsih. Prinsip-prinsip Pembelajaran
Bahasa Indonesia. http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/PRINSIP%20PEMBELAJARAN%20BI.pdf