Selasa, 14 Mei 2013

Metodologi Pengajaran Bahasa


PRINSIP-PRINSIP PENGAJARAN BAHASA

A.   Macam-macam Prinsif Pembelajaran
Prinsip Pengajaran Bahasa Menurut Brown ada 12 dan terbagi dalam 3 tema yaitu Prinsif Kognitif, Prinsip Afektif dan Prinsip Linguistik, sebagai berikut:
1.    Prinsip Kognitif
Menurut Brown, ada lima prinsif kognitif, yaitu: Otomatisasi, Pembelajaran Bermakna, Antisipasi Penghargaan, Motivasi Intrinsik, dan Strategi Investasi.
a.    Otomatisasi
Otomatis berarti bahwa pembelajar bahasa kedua diharapkan memperoleh bahasa keduanya seperti anak-anak yang sedang belajar bicara,  mengucapkan sepatah demi sepatah kata tanpa memfokuskan struktur bahasa, sehingga jika ini terus menerus dilakukan maka bahasanya akan menjadi lancar dan otomatis.
Implikasi  Prinsip Otomatisasi pada Pembelajaran, antara lain:
1.  Biasanya pembelajaran bahasa dimulai dengan pengenalan pada sistem bahasa (struktur, fonologi, wacana, dll.)
2. Pastikan pembelajaran bahasa berfokus pada penggunaan bahasa. Gunakan bahasa yang otentik pada setiap kesempatan (Hadley: 2001).
b. Pembelajaran Bermakna
Brown (2007) mengatakan bahwa situasi pembelajaran bisa bermakna jika (1) pembelajar memiliki perangkat pembelajaran bermakna, yaitu sebuah kecenderungan untuk mengaitkan kegiatan pembelajaran baru dengan apa yang telah mereka ketahui, dan (2) kegiatan pembelajaran itu sendiri punya kemungkinan bermakna bagi pembelajar, yaitu bisa dihubungkan dengan struktur pengetahuan pembelajar. Proses pada pembelajaran bermakna mirip dengan pendekatan pemrosesan informasi yang menyatakan bahwa murid mengolah informasi, memonitornya, dan menyusun strategi berkenaan dengan informasi tersebut. Inti dari pendekatan ini adalah proses berpikir. (Santrock: 2007).
Beberapa implikasi dari prinsip pembelajaran bermakna pada pembelajaran, antara lain:
1.     Ajak siswa berbicara tentang bakat, minat, harapan, dan pandangan  mereka tentang sesuatu agar mereka terdorong untuk berbicara.
2.    memberikan scaffolding, menjembatani siswa dengan pengetahuan sebelumnya sebelum memperkenalkan pengetahuan selanjutnya, agar siswa dapat mengikuti pembelajaran dengan mudah.
c.    Antisipasi Penghargaan
Reward (penghargaan) dalam pembelajaran merupakan salah satu alasan yang membuat pembelajar termotivasi dan semangat. Beberapa implikasi dari prinsip ini pada pembelajaran, antara lain:
1.    memberikan reinforcement dalam bentuk verbal (pujian) atau  nonverbal (acungan jempol)
2.    Beri dorongan pada siswa untuk saling memuji atau memberikan motivasi.
3.    Pada kelas dengan tingkat motivasi yang sangat rendah, guru dapat memberikan reward berupa gambar atau sticker lucu agar siswa lebih termotivasi.
d.    Motivasi Intrinsik  dan Ekstrinsik
Edward Deci (1975, h. 23) dalam bukunya Brown mendefinisikan motivasi intrinsik adalah aktivitas-aktivitas yang termotivasi secara intrinsik adalah aktvitas yang untuk itu tidak ada imbalan yang jelas kecuali aktivitas itu sendiri......perilaku-perilaku yang termotivasi secara intrinsik dimaksudkan untuk mewujudkan konsekuensi-knsekuensi tertentu yang memberikan imbalan secara internal, yaitu perasaan kompeten dan menentukan nasib sendiri.
Contoh motivasi intrinsik: murid belajar menghadapi ujian karena dia senang pada mata pelajaran yang diujikan itu. (Santrok: 2007). Reward yang paling kuat adalah yang berasal dari diri sendiri. Motivasi Ekstrinsik dirangsang oleh pengharapan terhadap imbalan dari luar atau diluar diri. Imbalan-imbalan ekstrinsik yang lazim adalah uang, hadiah, nilai ujian dan lain sebagainya.
e.     Investasi Strategi
Investasi pembelajar dalam mempelajari bahasa kedua berdasarkan usaha dan waktu yang digunakan oleh pembelajar, serta setiap pembelajar mempunyai metode dan strategi yang berbeda dalam belajar.
Beberapa implikasi dari prinsip strategi investasi pada pembelajaran:
1. Memberikan perhatian yang sama pada semua siswa.
2. Mengetahui gaya belajar masing masing siswa.
3.  Menggunakan teknik pengajaran yang bervariasi disesuaikan dengan gaya belajar para siswa.


2.Prinsif  Sosio- Afektif
Belajar merupakan upaya sadar untuk mencapai perubahan perilaku secara keseluruhan yang meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Aspek afektif memegang peranan yang penting dalam menentukan tingkat kesuksesan dalam belajar, bekerja, ataupun kegiatan yang lainnya. Afeksi mengacu kepada emosi atau perasaan. Ranah afektif adalah sisi emosional dalam perilaku manusia, dan dapat disandingkan dengan sisi kognitif. Emosi atau perasaan seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor kepribadian, perasaan tentang diri sendiri maupun tentang orang lain yang berhubungan dengan dirinya. Banyak variabel yang terlibat dalam mengkaji sisi emosional perilaku manusia dalam proses pembelajaran bahasa seperti rasa harga diri, rasa percaya diri, kenal akan diri sendiri, dan percaya akan kemampuan diri sendiri (Brown, 2008:166-167)
empat prinsip pengajaran bahasa afektif, keempatnya ditandai dengan adanya keterlibatan emosional, baik secara pribadi sebagai pelajar atau yang berhubungan dengan orang lain sebagai makhluk sosial.
1.    Ego Bahasa (Language Ego): mengembangkan identitas kedua
Seseorang belajar untuk menggunakan bahasa kedua, maka ia juga mengembangkan identitas kedua (cara berpikir, merasa, dan bertindak) terkait dengan bahasa kedua yang dia gunakan. Jika siswa belajar bahasa Inggris sebagai bahasa kedua, mereka akan mengalami krisis identitas karena mereka sedang mengembangkan identitas kedua. Kadang kala siswa merasa bingung karena mereka kurang memahami budaya dan cara hidup penutur asli bahasa kedua tersebut. Misalnya, siswa merasa dirinya konyol atau dipermalukan ketika dia membuat kesalahan dalam pemilihan kata atau tata bahasa dalam berkomunikasi. Dalam hal ini siswa akan merasa rapuh, defensif dan menimbulkan berbagai hambatan. Implikasi dalam pengajaran:
·         Guru selalu bersikap mendorong siswa untuk tidak cemas dalam menggunakan bahasa target yaitu dengan mengemas materi pelajaran.
·          Brown (2001: 62) menegaskan bahwa karena adanya unsur kerapuhan pada diri siswa dalam belajar bahasa, maka guru seharusnya memperlakukan mereka dengan penuh kelembutan dan sikap yang bijak. Dalam hal ini, kesabaran dan pengertian diperlukan untuk menahan emosi mereka sehingga dapat mempermudah proses penguasaan bahasa kedua tersebut.
2.    Percaya Diri (Self Confidence): keberhasilan siswa tergantung percaya diri atau tidak siswa tersebut (keyakinan pembelajar akan kemampuannya). Implikasinya terhadap pengajaran yaitu:

3.    Pengambilan Resiko (Risk-Taking): menumbuhkan keberanian siswa agar tidak takut menggunakan bahasa target. Prinsip ini menyarankan agar siswa dibiasakan untuk berani mengambil resiko dalam menggunakan bahasanya dengan tidak takut berbuat salah. Implikasinya dalam pengajaran:
·         Guru harus kreatif dalam menciptakan atmosfir kelas yang kondusif untuk mendorong siswa agar secara tidak sadar memaksa dirinya untuk menggunakan bahasa target.
·         Guru juga dapat menyediakan tantangan yang masuk akal yang tidak mudah dan tidak terlalu sulit. Seperti menantang siswa membuat teka-teki menggunakan bahasa target.
4.    Hubungan Bahasa dan Budaya (The Language-Culture Connection)
Bahasa dan budaya merupakan dua hal yang tak terpisahkan karena bahasa termasuk bagian dari budaya, sehingga menjadi sangat penting dalam pembelajaran bahasa kedua. Sebaliknya, bahasa juga merupakan faktor penting dalam pengembangan dan pemertahanan budaya. Budaya melibatkan sikap, nilai, keyakinan, norma, dan perilaku yang dianut bersama oleh sebuah kelompok tetapi dijaga secara berbeda oleh setiap unit spesifik di dalam kelompok yang bersangkutan, dikomunikasikan lintas generasi, relatif stabil tetapi mempunyai peluang untuk berubah seiring waktu (Matsumoto, 2000 dalam Brown, 2007:206-207). Implikasinya dalam pengajaran:
·         Guru bahasa dapat membahas perbedaan lintas-budaya dengan siswa dengan menekankan bahwa tidak ada budaya yang lebih baik daripada budaya yang lain dan menekankan bahwa mempelajari budaya bahasa target adalah penting untuk praktiknya nanti.
·         Guru juga dapat menggunakan bahan-bahan tertentu yang menggambarkan hubungan antara bahasa dan budaya serta membahas aspek sosiolinguistik bahasa.
3. Prinsip-prinsip Linguistik
Prinsip ini berpusat pada bahasa itu sendiri dan bagaimana peserta didik memahami sistem linguistik yang kompleks. Berdasarkan teori-teori kebahasaan, dirumuskan prinsip-prinsip mengenai pengajaran bahasa, antara lain kemampuan berbahasa adalah sebuah proses kreatif.
Ada tiga prinsip pengajaran bahasa linguistik, yaitu prinsip pengaruh bahasa ibu, prinsip antarbahasa, dan prinsip kompetensi komunikatif.
·        Pengaruh Bahasa Ibu atau Bahasa Pertama (menekankan pentingnya bahasa ibu) Bahasa ibu mempunyai pengaruh yang kuat terhadap akuisisi sistem bahasa target. Pengaruh ini dapat bersifat mendukung atau mengganggu proses produksi dan pemahaman bahasa yang baru, dan ternyata efek mengganggu cenderung lebih menonjol.
Implikasi pengaruh bahasa ibu dalam pengajaran:
1. Guru seharusnya mengagap kesalahan siswa sebagai jendela yang menjadi dasar dalam memberikan umpan balik yang tepat kepada siswa. Setiap kesalahan yang dilakukan oleh siswa harus dikomentari oleh guru dan diberi penjelasan tentang hal yang sebenarnya.
·        Antar Bahasa (Interlanguage) atau disebut antar bahasa: Interlanguage berasal dari kata inter dan language yang menekankan adanya pengaruh bentuk-bentuk bahasa terhadap bahasa yang lain.  interlanguage adalah bahasa yang kedudukannya berada diantara bahasa ibu dan bahasa sasaran yang sedang dipelajari (Namser, 1972, Selinker 1972). Pembelajar bahasa kedua cenderung mendapatkan pengaruh dari bentuk-bentuk bahasa terdahulu saat mereka berusaha untuk menguasai bahasa kedua. Terkadang bahasa asli ditransfer secara negatif, maka terjadilah interferensi. Implikasi dalam pengajaran:
1.    Guru membedakan antara kesalahan interlanguage dan kesalahan lainnya.
2.    Memberi toleransi untuk bentuk kesalahan interlanguage tertentu yang mungkin timbul dari proses perkembangan logis siswa.
·        Kompetensi Komunikatif (CC) dalam Prinsip-prinsip Pengajaran Bahasa (Brown) Kompetensi komunikatif diciptakan oleh Dell Hymes (1972, 1967) seorang pakar sosiolinguistik. Hymes menyebutkan CC sebagai aspek kompetensi yang memungknkan kita menyampaikan dan menafsirkan pesan antar personal dalam konteks-kontek tertentu. Savigon mengatakan bahwa CC itu relatif, tidak mutlak, dan tergantung pada kerja sama semua partisipan yang terlibat. CC menekankan bahwa kompetensi komunikatif merupakan tujuan dari kelas bahasa. Beberapa hal yang harus menjadi pertimbangan dalam menerapkan prinsip ini dalam kelas bahasa:
1     Penjelasan tata bahasa hanya bagian dari sebuah pelajaran atau kurikulum, sehingga jangan mengabaikan komponen penting lainnya (misalnya, fungsional, sosiolinguistik, psikomotor, dan strategis) dari kompetensi komunikatif.
2     Jangan lupa mengajarkan kemampuan psikomotor (pengucapan) karena terlalu antusias mengajar aspek fungsional dan sosiolinguistik. Misalnya, melatih pronunciation dan intonasi berbicara dalam bahasa target.
3.    Pengajaran bahasa menekankan pada autentisitas, interaksi, dan komunikasi untuk kepentingan sehari-hari. Contohnya mengajarkan bagaimana cara menanyakan informasi dalam bahasa target dan lain sebagainya.
4.    Siswa harus memiliki kesempatan untuk mendapatkan kefasihan dalam bahasa Inggris tanpa harus terus waspada terhadap kesalahan-kesalahan kecil karena sesungguhnya mereka belajar dari kesalahan-kesalahan itu.
5.    Mempersiapkan siswa menjadi pembelajar mandiri nantinya ketika sudah selesai dari kelas yang guru ajarkan.
B.   Prinsip  Pengajaran B2 Menurut Hadley
Hadley menyebut prinsip ini sebagai hipotesis karena prinsif-prinsif  itu masih  terus berkembang dan direvisi. Prinsif-prinsif tersebut sebagai berikut;
Hipotesis 1: pelajar harus diberi kesempatan untuk berlatih menggunakan bahasa dalam konteks pemakaian yang ada dalam bahasa target itu dan mempraktekkan pengetahuannya berdasarkan situasi kehidupan
Konsekuensi:
Ø  Pelajar harus didorong berbicara dengan B2 sedini mungkin yaitu segera setelah mereka mendapatkan pelajaran keterampilan produktif.
Ø   Menciptakan kesempatan untuk melakukan interaksi komunikatif yang aktif antar pelajar dikelas yang berorientasi pada kemahiran latihan bahasa kreatif (yang dipertentangkan latihan konvergen) perlu digalakkan sedapat mungkin yang digunakan dalam pengajaran adalah bahasa yang autentik

Hipotesis 2: Pelajar harus diberikan kesempatan untuk menggunakan berbagai fungsi bahasa yang mungkin diperlukan untuk bergaul dengan orang lain dalam budaya target
Hipotesis 3: Pengembangan ketetapan bahasa harus digalakkan dalam pengajaran yang berorientasi kemahiran. Pada waktu pelajar menggunakan bahasa balkan instruktur dan evaluatif sangat membantu dalam memudahkan pelajar dalam menguasai pemakaian bahasa yang tepat dan koheren, banyak yang percaya bahwa pengajaran dan umpan balik memberikan dampak yang positif terhadap perolehan B2,
Hipotesis 4: Intruksi harus responsif terhadap afektif dan kebutuhan kognitif siswa dan perbedaan kepribadian mereka, gaya belajar harus diperhitungkan.
Hipotesis 5: pemahaman budaya perlu diupayakan dengan berbagai cara sehingga pelajar peka terhadap budaya lain serta siap  untuk hidup harmonis dalam masyarakat B2.
  1. Prinsip Pengajaran Bahasa Indonesia
[1]Prinsip-prinsif Pengajaran Bahasa Indonesia menurut Purnomo, dalam Makalah Septia Sugiarsih sebagai berikut:
1.    Prinsip Apresiatif
Prinsip apresiatif lebih ditekankan pada pembelajaran sastra. Apresiatif dimaknai yang “menyenangkan”. Jadi prinsip apresiatif berarti prinsip pembelajaran yang menyenangkan.
2.    Prinsif Integratif (belajar bahasa hendaknya tidak terpisah-pisah)


3.    Prinsip Fungisional
Prinsip pembelajaran bahasa yang  fungsional, yaitu pembelajaran bahasa harus dikaitkan  dengan fungsinya, baik dalam berkomunikasi maupun  dalam memenuhi keterampilan untuk hidup (Purnomo, 2002: 10-11).
Salah satu hakikat bahasa adalah suatu sistem. Hal tersebut berarti suatu keseluruhan kegiatan yang satu dengan yang lainnya saling berkaitan untuk mencapai tujuan berbahasa yaitu berkomunikasi. Subsistem bahasa adalah fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik. Keempat subsistem ini tidak dapat berdiri
4.    Prinsip Kontekstual
Purnomo (2002:10) kontekstual adalah pembelajaran yang dilakukan secara konteks, baik konteks linguistik maupun konteks nonlinguistik. Pembelajaran yang mengaitkan materi yang diajarkan dengan dunia nyata peserta didik dan mendorong peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari, Depdiknas (2002:5). Mampu berkomunikasi baik secara lisan dan tulisan.

D.   Metode Pengajaran Bahasa (Metode Tradisional)
1.    Metode Grammar-Translation
Metode Grammar–translation sudah diterapkan sebelum abad 19 century dan diawal abad 20 century. Metode ini membantu pembelajar memahami bahasa native language dalam mempelajari grammar dan menterjemahkan bahasa.
Karakteristik metode  grammar-translation sebagai berikut:
-       Pelajar pertama kali belajar tata bahasa dan kosa kata yang berkaitan dengan membaca. Grammar dipelajari
2.    Direct Method: belajar bahasa kedua harus mirip dengan pembelajaran bahasa pertama, yaitu banyak interaksi lisan/ dialog lisan. Metode ini, berdasar pada premis bahwa bahasa kedua(L2) sebaiknya dipelajari dengan cara yang sama seperti pemerolehan bahasa pertamaL1.

Audiolingual Method: berdasarkan prinsif bahwa pembelajaran bahasa adalah suatu bentuk kebiasaan dan peniruan, dan pembelajaran dengan audiolingua secara bertahap menggunakan pola latihan berulang. Urutan berbahasa yang diajarkan adalah mendengar, berbicara, membaca, dan menulis. Para ahli Audiolingual berpendapat bahwa metode audiolingua merupakan metode yang paling efektif dan efisien dalam pembelajaran bahasa asing.


[1] Septia Sugiarsih. Prinsip-prinsip Pembelajaran Bahasa Indonesia. http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/PRINSIP%20PEMBELAJARAN%20BI.pdf