Minggu, 21 April 2013

gemar membaca


Sila dan Baca Al-Quran!

“Bacalah !” kalimat tersebut saya kutip dari salah satu firman Allah SWT yang pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril yaitu surat Al Alaq ayat pertama yang berbunyi:
ù&tø%$# ÉOó$$Î/ y7În/u Ï%©!$# t,n=y{ ÇÊÈ
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, (Al Alaq: 1)” Kalimat tersebut mengisyaratkan pada saya betapa pentingnya membaca dalam kehidupan ini. Diawali dari dunia Pesantren Al-Quran semenjak lulus Madrasah Ibtidaiyah (MI), saya dituntut untuk dapat membaca Al-Quran secara tartil dengan metode muratal dan harus dapat menamatkan satu juz Al-Qur’an dalam waktu satu hari. Kegemaran saya menelaah Al-Qur’an terutama pada bidang tilawah memotivasi saya untuk terus berlatih membaca Al-Quran secara baik.
Salah satu hambatan yang sering saya rasakan dalam membaca Al-Qur’an adalah karena kita tidak bisa menggemari Al-Qur’an yang akan kita baca dan kita tidak rutin untuk melakukan proses membaca itu sendiri. Saya percaya, membaca Al-Qur’an bukan soal bakat atau tidak bakat, ada waktu atau tidak adanya waktu, namun soal bagaimana kita melatih kemampuan membaca Al-Quran untuk menambah pengetahuan serta mendekatkan diri kita kepada sang pencipta. Banyak sekali paedah dan manfaat membaca Al-Qur’an bagi kehidupan kita di dunia dan akhirat kelak. Awalilah membaca Al-Qur’an dengan kita mengemarinya, jangan kita membaca Al-Qur’an karena terpaksa, karena hal tersebut akan mengakibatkan ketidaknyamanan jiwa bahkan ketidak seriusan untuk memahami makna bacaan yang kita baca, yang mengakibatkan tidakakan mendapatkan pemahaman dan pahala dari apa yang telah kita baca.
            Selain membiasakan diri membaca Al-Qur’an, kita juga perlu tahu dan memahami metode dan teknik membaca Al-Qur’an yang baik untuk menunjang proses membaca Al-Qur’an yang kita lakukan, seperti halnya membaca dengan disertai penerapan ilmu tajwid serta dapat memaknai isi kandungan Al-Qur’an, betapa pentingnya Al Qur’an sebagai petunjuk/pedoman dalam menjalankan kehidupan ini, karena Allah telah jaminan akan memberikan pahala bagi hambanya yang membaca dan mengamalkan isi kandungannya, dan baginya tidak akan tersesat di dunia dan tidak akan celaka di akhirat. Sesuai dengan firman Allah dalam surah Thoha, "...maka (ketahuilah) barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, dia tidak akan tersesat dan tidak akan celaka." (QS 20:123).
Sejalan dengan firman Allah di atas Abu Umamah, ia berkata : "Saya mendengar Rasulullah Radhiyallahu 'anhu bersabda : "Bacalah Al Qur'an karena sesungguhnya Al Qur'an itu akan datang di hari kiamat untuk memberi syafa'at bagi yang membacanya" (HR. Muslim). Selain memberikan syafa’at bagi yang membacanya, Al Qur’an juga dapat pula memberikan kesejukan kalbu terlebih bagi kita yang memiliki banyak masalah dalam kehidupan. Alangkah indahnya bila kita merutinkan membaca Al-Qur’an dalam kehidupan kita sehari-hari, mulailah membaca Al Qur’an walaupun hanya satu ayat selepas solat karena dengan amalan yang tak pernah putus akan menyelamatkan kita pada hari kiamat nanti, karena Al-Qur’an memberikan ketenangan jiwa umat manusia.
Ada suatu hadits yang menerangkan bahwa Abu Musa Al Asy'ari Radhiyallahu 'anhu berkata, Rasulullah Radhiyallahu 'anhu bersabda:  "Perumpamaan orang mukmin yang membaca Al Qur'an itu bagaikan jeruk limau; harum baunya dan enak rasanya dan perumpamaan orang mu'min yang tidak membaca Al Qur'an itu bagaikan buah kurma; tidak ada baunya namun enak rasanya. Dan perumpamaan orang munafik yang membaca Al Qur'an itu bagaikan buah raihanah; harum baunya tapi pahit rasanya dan orang munafik yang tidak membaca Al Qur'an itu bagaikan buah hanzhalah; tidak ada baunya dan pahit rasanya" (HR. Bukhari dan Muslim). 
Dengan demikian marilah kita tingkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah dengan terus membaca Al-Qur’an serta mengerti isi dari makna yang terkandung didalamnya, karena dengan membaca Al-Qur’an kita menjadi tau dan mengerti makna kehidupan kita di dunia dan akhirat, selain itu Al-Qur’an  sebagai obat dan petunjuk hidup menuju ketenangan jiwa.