ANALISIS
KESALAHAN PENGGUNAAN KONJUNGSI DALAM
KARANGAN
DESKRIPSI PADA SISWA KELAS VIII MTs. DI KOTA BOGOR
Ahmad
Syaeful Rahman, S.Pd.
ABSTRAK
Penelitian
ini mengkaji analisis kesalahan penggunaan konjungsi dalam karangan deskripsi
siswa kelas VIII salah satu MTs di Kota Bogor. Kesalahan
berbahasa merupakan suatu prosedur kerja yang biasa digunakan oleh para
peneliti dan guru bahasa, yang meliputi pengumpulan sampel, penjelasan
kesalahan tersebut, pengklasifikasian kesalahan itu berdasarkan penyebabnya,
serta pengevaluasian atau penilaian taraf keseriusan kesalahan itu.
Konjungsi merupakan kata tugas yang
menghubungkan dua satuan bahasa yang sederajat seperti, kata dengan kata, frase
dengan frase, atau klausa dengan klausa. Karangan merupakan pemindahan pikiran
atau perasaan kedalam bentuk lambang-lambang bahasa. Karangan Deskripsi
merupakan bentuk tulisan yang bertujuan memperluas pengetahuan dan pengalaman
pembaca dengan jalan melukiskan hakikat objek yang sebenarnya. Penelitian ini
bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk kesalahan penggunaan konjungsi
dalam karangan deskripsi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah
deskriptif kualitatif dengan studi kepustakaan yang bertujuan untuk membuat
gambaran, lukisan secara sistematik, faktual, dan akurat mengenai analisis
kesalahan penggunaan konjungsi dalam karangan deskripsi siswa kelas VIII MTs X
(eks). Teknik pengumpulan data menggunakan dokumentasi dan observasi. Teknik
penganalisaan data menggunakan penarikan simpulan persentase. Subjek penelitian
ini adalah siswa kelas VIII MTs X (eks). Hasil penelitian dapat dikemukakan
sebagai berikut: dari hasil penelitian tersebut, peneliti menemukan kesalahan
dari dua segi. 1) kesalahan akibat pergeseran fungsi konjungsi. 2) kesalahan
akibat cara penggunaan konjungsi. Kesalahan konjungsi terdapat dua kesalahan,
yaitu kesalahan konjungsi intrakalimat (konjungsi yang berfungsi menghubungkan
kata dengan kata, frase dengan frase, atau klausa dengan klausa yang berada di
dalam sebuah kalimat), memiliki persentase berjumlah 3,31 persen dan kesalahan
konjungsi antarkalimat (kata atau gabungan kata yang menghubungkan kalimat
dengan kalimat atau paragraf dengan paragraf berikutnya), memiliki persentase
berjumlah 6,94 persen. 3) kesalahan penulisan karangan, khususnya karangan
deskripsi dalam menggunakan konjungsi dapat dipertimbangkan sebagai bahan ajar
yang berguna bagi penyusun kurikulum. Sedangkan bagi guru bahasa dan sastra
Indonesia, kesalahan penulisan karangan deskripsi dalam menggunakan konjungsi
bisa digunakan sebagai contoh dalam pembelajaran menulis.
Kata
kunci: Anakes, konjungsi, karangan, karangan deskripsi
PENDAHULUAN
Bahasa secara umum dapat diartikan sebagai suatu alat komunikasi yang
disampaikan seseorang kepada orang lain agar bisa mengetahui apa yang menjadi
maksud dan tujuannya. Bahasa ditempatkan sebagai alat komunikasi manusia untuk
mengungkapkan pikiran atau perasaan dengan menggunakan simbol-simbol komunikasi
baik yang berupa suara, gestur (sikap badan), atau tanda-tanda berupa tulisan.
Kegiatan menulis,
menuangkan konsep-konsep atau ide-ide kedalam suatu tulisan yang menggunakan
suatu kaidah-kaidah penulisan yang tepat sesuai dengan bentuk tulisan yang akan
dibuat. Kegiatan menulis menuntut siswa untuk dapat melahirkan segala yang
dirasakan, dikehendaki, dan dipikirkan penulis untuk dikemukakan kepada orang
lain. Dengan menguasai keseluruhan tatanan bahasa itu maka diharapkan akan
diperoleh hubungan yang logis antara penguasaan kebahasaan dengan kemampuan
mengarang.
Dalam hubungannya
dengan pengajaran bahasa Indonesia di sekolah, mengarang merupakan salah satu
materi yang diberikan dalam pelajaran menulis, khususnya tentang menulis
karangan. Banyak orang menganggap bahwa menulis itu mudah dan tidak perlu
dipelajari. Namun pada kenyataannya menulis itu tidak mudah dan banyak hal-hal
yang harus diperhatikan dalam menulis. terutama dalam menulis sebuah karangan.
Penggunaan bahasa baik
itu orang cerdik, pandai atau pun orang yang sedang belajar dapat menuliskan
kalimat-kalimat mereka dengan mudah dan jelas. Memisahkan kata-kata dalam
tulisan mereka itu tanpa melihat dan mengetahui dengan benar apakah hal tersebut
tepat atau kurang tepat. Pada akhirnya sering ditemukan kesalahan dalam hal
penulisan kata, yang menyebabkan timbulnya kalimat yang tidak efektif.
Kridalaksana (2001: 24), mengartikan bahasa sebagai sebuah
sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang dipergunakan oleh para anggota suatu
masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri.
Dalam bahasa terdapat empat keterampilan dasar. Keterampilan tersebut adalah
menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Diantara keempat keterampilan tersebut
sangatlah berkaitan, saling menunjang, dan saling mendukung”.
Menyangkut dengan kata,
kata-kata yang dipergunakan dalam bentuk kalimat harus dipilih dan disesuaikan
dengan tepat. Dengan demikian kalimat menjadi jelas maknanya. Begitu juga dalam
menulis karangan sebaiknya katakata yang digunakan harus tepat, karena kata
merupakan bagian dari bahasa.
Salah satu unsur
mengarang ialah bahasa tulis. Dalam bahasa tulis di dalamnya mencakup sejumlah unsur-unsur
kebahasaan, yaitu macam-macam huruf, berbagai kata (kata dasar, kata tugas,
kata kerja, kata gabung, dan sebagainya), dan tanda baca. Sesuai dengan asas
ketepatan unsur kebahasaan itu harus ditulis secara tepat menurut ketentuan
yang berlaku.
Berbicara tentang kata
tugas, berdasarkan peranannya dalam frase atau kalimat dapat dibagi menjadi
beberapa kelompok, diantaranya konjungsi atau kata penghubung. Dalam pemakaian
konjungsi dapat digolongkan menjadi beberapa macam. Seperti konjungsi penunjuk
gabungan dan, serta, lagi, lagi pula, dan sebagainya.
Dalam karangan
khususnya karangan yang ditulis oleh siswa yang sedang mengalami proses
belajar, kesalahan-kesalahan penempatan kata khususnya konjungsi masih banyak
dilakukan yang akhirnya menghasilkan kalimat yang tidak efektif. Maka
penguasaan konjungsi merupakan kemampuan penting bagi siswa agar mampu menulis
karangan dengan menempatkan konjungsi yang pada akhirnya menghasilkan kalimat
efektif.
Berdasarkan uraian di
atas, penelitian mengenai analisis kesalahan penggunaan konjungsi ini dirancang
untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk kesalahan penggunaan konjungsi dalam
karangan deskripsi siswa MTs kelas VIII.
LANDASAN TEORITIS
Hakikat
Kesalahan Berbahasa
Menurut Corder dalam Ramlan (2010),
kesalahan
berbahasa adalah pelanggaran terhadap kode berbahasa. Pelanggaran ini bukan
hanya bersifat fisik, melainkan juga tanda kurang sempurnanya pengetahuan dan
penguasaan terhadap kode. Si pembelajar bahasa belum menginternalisasikan
kaidah bahasa (kedua) yang dipelajarinya. Dikatakan
pula oleh Corder bahwa baik penutur asli maupun bukan penutur asli sama-sama
mempunyai kemungkinan berbuat kesalahan berbahasa. Arifin dan Hadi (1993:10) berpendapat “Bahasa yang baik dan
benar adalah bahasa Indonesia yang digunakan sesuai dengan norma kemasyarakatan
yang berlaku dan sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang berlaku”.
Analisis keslahan menurut Ellis dalam Fahchrozi (2013), berpendapat
“Analisis kesalahan adalah suatu prosedur kerja yang biasa digunakan oleh para
peneliti dan guru bahasa, yang meliputi pengumpulan sampel, penjelasan
kesalahan tersebut, pengklasifikasian kesalahan itu berdasarkan penyebabnya,
serta pengevaluasian atau penilaian taraf keseriusan kesalahan itu”.
Tujuan dilakukannya
analisis kesalahan adalah: menentukan urutan bahan ajaran; menentukan urutan
jenjang penekanan bahan ajaran; merencanakan latihan dan pengajaran remedial; memilih
butir pengujian kemahiran siswa.
Hakikat Konjungsi
Menurut Widjono Hs (2007: 151), berpendapat bawha “Konjungsi adalah
bagian kalimat yang berfungsi menghubungkan unsur-unsur kalimat dalam sebuah
kalimat (yaitu subjek, predikat, objek, pelengkap, dan keterangan), sebuah
kalimat dengan kalimat, dan (atau) sebuah paragraf dengan paragraf yang lain”. Sedangkan
Alwi dan kawan-kawan (2003: 296), berpendapat “Konjungsi atau kata sambung adalah
kata tugas yang menghubungkan dua satuan bahasa yang sederajat: kata dengan
kata, frasa dengan frasa, atau klausa dengan klausa”. Hal senada juga
dikemukakan oleh Chaer (2009: 169) bahwa “Konjungsi adalah leksem-leksem
tertentu yang bertugas menghubungkan, baik kata dengan kata, frase dengan
frase, klausa dengan klausa, maupun kalimat dengan kalimat secara koordinatif
maupun secara subordinatif”.
Hakikat Karangan
Menurut Suparno dan Yunus (2006: 31) berpendapat “menulis
atau mengarang pada hakekatnya merupakan mengungkapkan atau menyampaikan
gagasan dengan bahasa tulisan”. Membaca pengertian di
atas proses menulis atau mengarang merupakan salah satu
cara berkomunikasi antara penulis dan pembaca. Digunakan istilah menulis
atau mengarang pada pengertian di atas, disebabkan tidak ada perbedaan dari kedua
istilah kata tersebut. Menulis merupakan padanan tersebut digunakan untuk
mencegah kesenadaan atau rasa kebahasaan.
Pendapat di atas, jelas bahwa mengarang
merupakan proses kegiatan seseorang menuangkan gagasannya dalam bentuk bahasa
tulisan. Karangan adalah hasil dari perwujudan gagasan tersebut atau hasil dari
mengarang.
1. Langkah-langkah Menulis Karangan
Langkah-langkah
mengarang menurut Suparno dan Yunus (2006: 3.43) terdiri dari: a) memilih bahan pembicaraan
(topik); b) menentukan tema dari bahan pembicaraan
itu; c) menentukan tujuan karangan yang akan dibuat serta bentuk karangan; d)
menentukan pendekatan terhadap tema pembicaraan; e) membuat bagan atau rencana
pembicaraan; f) pandai memulai karangan; g) pandai
membangun paragraf dan menjalin kesinambungan paragraph; h) pandai mengakhiri
atau menutup karangan; i) pandai membuat judul karangan”. Adapun Akhadiat dan kawan-kawan (2003: 6-25), membagi
langkah-langkah menulis karangan menjadi enam yaitu: a) pemilihan topic; b)
pembatasan topic; c) topik dan judul; d) tujuan
penulisan; e) bahan penulisan; f) kerangka karangan“.
Hakikat Karangan Deskripsi
1. Pengertian Deskripsi
Menurut Rasjid Sartuni,
dkk. (2000: 76), “Deskripsi adalah melukiskan
dengan bahasa”. Deskripsi digunakan untuk menyampaikan kesan yang dihasilkan
oleh segi-segi tentang seseorang, suatu tempat, suatu pemandangan. Seseorang
dapat melukiskan atau menggambarkan dengan menggunakan sebuah bahasa yang
dituangkan dalam tulisan. Menurut
Maimunah (2007: 46), “Deskripsi adalah melukiskan atau menggambarkan sesuatu
dengan bahasa tentang suatu hal atau peristiwa secara obyektif”.
2. Jenis Deskripsi
Secara garis besar
dapat dibedakan dua jenis karangan deskripsi yaitu karangan deskripsi
ekspositoris (deskripsi teknis), dan deskripsi artistik (deskripsi
impresionistik atau sugestif). Tentang kedua jenis karangan deskripsi ini,
Suparno dan Yunus (2006:4.8)
berpendapat sebagai berikut:
a. Deskripsi
ekspositoris bertujuan menjelaskan sesuatu dengan perincian yang jelas
sebagaimana adanya tanpa menekankan unsur impresi atau sugesti pada pembaca.
Bahasa yang digunakan adalah bahasa yang formal dan lugas.
b. Deskripsi artistik adalah deskripsi yang
mengarah kepada pemberian pengalaman kepada pembaca bagaikan perkenalan
langsung dengan objek yang disampaikan, dengan jalan menciptakan sugesti dan
impresi.
METODE
PENELITIAN
Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif dengan
studi kepustakaan. Penelitian dilakukan di salah satu MTs di kota Bogor. Populasi dalam penelitian ini adalah
seluruh siswa kelas VIII MTs X
(eks) di kota Bogor,
adapun sampel yang digunakan adalah siswa kelas VIII-A yang berjumlah 30 siswa. Teknik pengolahan data pada
penelitian ini yaitu dengan menghimpun dan menganalisis dokumen (karangan
siswa) dan mengobservasi kegiatan siswa.
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Analisis
Data
Dari
hasil penelitian, peneliti menemukan kesalahan dari dua segi. Pertama kesalahan
akibat pergeseran fungsi konjungsi, kedua kesalahan akibat cara penulisan
konjungsi. Berikut ini peneliti uraikan kesalahan tersebut satu persatu.
a)
Kesalahan akibat pergeseran fungsi
konjungsi.
1)
Anak kijang sedang berlari mencari
induknya yang hilang.
2)
Teman sebayaku sedang menggenggam sebuah
pancing. Kata sedang sebenarnya berfungsi sebagai penunjuk aspek, karena
pergeseran fungsi maka kata sedang dapat berfungsi sebagai kata penghubung
seperti pada kalimat di atas.
3)
Setelah kami kecapean dan sudah
berkeliling melihat pemandangan, kami beristirahat. Kata setelah berasal
dari kata telah, yang berfungsi sebagai penunjuk aspek. Karena pergeseran
fungsi dan ditambah dengan awalan se- maka kata tersebut berubah menjadi kata
penghubung. Demikian juga dengan kata sudah.
4)
Sesudah itu saya duduk dengan
teman-teman di bawah pohon. Kata sesudah berasal dari kata sudah, yang
berfungsi sebagai penunjuk aspek. Karena pergeseran fungsi dan ditambah dengan awalan
se- maka kata tersebut berubah menjadi kata penghubung.
5)
Rasa dingin itu menjadi hilang. Antara
kata rasa dingin dan hilang dihubungkan dengan kata menjadi.
Di sini telah terjadi pergeseran fungsi kata tersebut menjadi kata penghubung.
Dalam kenyataan menjadi banyak digunakan dalam pembelokkan arti
tertentu. Contoh: keadaan telah berubah menjadi lebih baik.
6)
Ayah sedang membaca koran di teras depan
rumah.
Tabel
1
Format
Kesalahan Penggunaan Konjungsi
|
Nama Siswa
|
Penulisan yang salah
|
Jumlah
|
Penulisan yang tepat
|
|
|
Jenis
Konjungsi
|
||||
|
*Kj. 1
|
*Kj. 2
|
|||
|
Andi
|
ingin tinggal
lama lagi dengan
mereka yang
berkumpul
dengan yang
lain.
sekedar
kenangan untuk
dimasa yang
akan
tiba.
|
|
2
|
ingin tinggal lama
lagi dengan mereka
dan berkumpul
dengan yang lain.
sekedar kenangan
untuk masa yang akan
datang.
|
|
Hani
|
aku ke masjid
dan
menjalankan
kewajibanku
sebagai umat
islam.
|
terdengar bel
berbunyi dan
semua siswa
masuk dan
mengikuti
pelajaran.
dan pulang dari
masjid.
|
3
|
terdengar bel berbunyi dan semua
siswa masuk untuk mengikuti
semua pelajaran.
aku ke masjid untuk menjalankan
kewajibanku sebagai umat islam.
setelah
pulang dari masjid.
|
|
Nina
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
Nia
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
Ajay
|
dia
memelihara
segala
pepohonan
dan keindahan
alam.
|
|
1
|
dia memelihara segala pepohonan
untuk
keindahan alam.
|
|
Ayu
|
seorang anak
kecil
mendapat
kecelakaan
dengan
tertabrak
mobil.
|
setelahnya saya
pulang dari
pasar.
|
2
|
seorang anak kecil mendapat
kecelakaan karena tertabrak
mobil.
setelah
saya pulang dari pasar.
|
|
Hesti
|
Sayang rumah
kami jauh
dengan laut.
|
|
1
|
Sayang rumah kami jauh dari
laut.
|
|
Hana
|
lalu melihat
museum pada
zaman
manusia
purba.
|
setelah sampai
ke Jakarta lalu
turun dari
kereta lalu
sampailah di
Istiqlal.
|
2
|
setelah sampai ke Jakarta lalu
turun dari kereta kemudian
sampailah di Istiqlal.
setelah itu melihat museum pada
zaman manusia purba.
|
|
Diana
|
kami diam
dulu sebentar
dan
mendengarkan
lomba adzan.
serta kami
akan ke luar.
kami mampir
dulu ke monas
dan kami
melihat.
|
sesudahnya
shalat ashar.
tetapi sesudah
kami
berkunjung ke
monas.
|
5
|
kami diam dulu sebentar untuk
mendengarkan lomba adzan.
ketika kami akan ke luar.
setelah shalat ashar.
akan tetapi setelah kami
berkunjung ke monas.
kami singgah dulu ke monas
untuk melihat.
|
|
Dina
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
Seli
|
|
maka dengan itu
kita harus
bersyukur.
maka dengan itu
kita akan
terhindar dari
banjir.
|
2
|
oleh sebab itu kita harus
bersyukur.
maka dari itu kita akan terhindar
dari banjir.
|
|
Icha
|
Ibuku mempersiapkan
sarapan pagi, sesudahnya
sarapan.
|
|
1
|
banyak sekali pohon-pohon
yang subur, daun-daun yang
hijau, tempatnya bersih dan
tidak kotor.
|
|
Dinda
|
|
saya semakin
kesal, terus saya
membiarkannya.
|
1
|
saya semakin kesal, kemudian
saya membiarkannya.
|
|
Shodikul
|
banyak sekali
pohon-pohon
yang subur,
daun-daun
yang hijau,
tempatnya
bersih serta
pula tidak
kotor.
|
|
1
|
banyak sekali pohon-pohon
yang subur, daun-daun yang
hijau, tempatnya bersih dan
tidak kotor.
|
|
Daud
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
Angga
|
dan sesudah
merasa cape.
|
|
1
|
setelah merasa lelah.
|
|
Delia
|
dimana saya
dan ibu
berdiri.
pergi ke suatu
tempat
dimana
tempat itu
sangat ramai.
|
setelah kami
kecapean dan
sudah
berkeliling
melihat
pemandangan.
|
3
|
setelah kami merasa lelah karena
berkeliling melihat pemandangan.
di mana saya dan ibu berdiri.
pergi ke suatu tempat di mana
tempat itu sangat ramai.
|
|
Wilda
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
Ika
|
|
sesudah saya
kenyang melihat
pemandangan.
terus kami
menceritakannya
kembali.
terus saya
berjalan.
|
3
|
setelah puas melihat
pemandangan.
kemudian kami menceritakan
kembali.
kemudian saya berjalan.
|
|
Izal
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
Deby
|
terdengar
suara burungburung
sedang
terbang
dilangit.
|
|
1
|
terdengar suara burung-burung
yang asyik terbang di langit.
|
|
Mei
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
Nia
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
Erica
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
Rudianto
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
Nurma
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
Ghina
|
pemandangan
di sana sangat
indah dan
sejuk dan
nyaman.
dan
lingkungan
dan
tempatnya.
|
|
2
|
pemandangan di sana sangat
indah dan sejuk serta nyaman.
lingkungan serta tempatnya.
|
|
Nabila
|
sambil makanmakanan
yang
ringan.
|
|
1
|
sambil makan-makanan ringan.
|
|
Erga
|
|
sudah pulang
dari kebun
raya.
|
1
|
setelah pulang dari kebun raya.
|
|
Algi
|
-
|
-
|
-
|
-
|
Keterangan :
*Konjungsi
1 : Konjungsi intrakalimat (konjungsi yang berfungsi menghubungkan kata dengan
kata, frase dengan frase, atau klausa dengan klausa yang berada di dalam sebuah
kalimat).
*Konjungsi
2 : Konjungsi antarkalimat (kata atau gabungan kata yang menghubungkan kalimat
dengan kalimat atau paragraf dengan paragraph berikutnya).
Jumlah : Jumlah
Berdasarkan data hasil
analisis kesalahan penggunaan konjungsi dalam karangan deskripsi siswa kelas
VIII sebanyak 33 kesalahan penggunaan konjungsi dalam karangan deskripsi dari
30 siswa. Data kesalahan penggunaan konjungsi dalam karangan deskripsi
menunjukkan bahwa kesalahan penggunaan konjungsi intrakalimat sebanyak 18
kesalahan atau 3,31%, kesalahan penggunaan konjungsi antarkalimat sebanyak 15
kesalahan atau 6,94%. Dengan demikian hasil tertinggi dari hasil analisis
kesalahan penggunaan konjungsi adalah konjungsi intrakalimat dengan 3,31% dari
30 siswa dan hasil terendah dari hasil analisis kesalahan penggunaan konjungsi
adalah konjungsi antarkalimat dengan 6,94% dari 30 siswa.
Dari hasil penelitian,
kesalahan konjungsi dalam karangan deskripsi siswa dibagi menjadi dua bagian
yaitu kesalahan pada konjungsi intrakalimat dan kesalahan konjungsi
antarkalimat. Pada kesalahan penggunaan konjungsi intrakalimat berfungsi menghubungkan
kata dengan kata, frase dengan frase, klausa dengan klausa yang berada di dalam
sebuah kalimat. Dengan demikian siswa yang menulis karangan deskripsi dengan
menggunakan konjungsi intrakalimat belum bisa menggunakan konjungsi
intrakalimat dalam tulisan karangannya.
Beberapa bentuk
penulisan kesalahan penggunaan konjungsi intrakalimat pada siswa yang peneliti
lakukan sebagai berikut. Aku ke masjid dan menjalankan kewajibanku sebagai umat
islam. Penulisan yang tepat pada kesalahan penggunaan konjungsi intrakalimat
sebagai berikut. Aku ke masjid untuk menjalankan kewajibanku sebagai umat
muslim. Penulisan kesalahan penggunaan konjungsi intrakalimat sebagai berikut.
Seorang anak kecil mendapat kecelakaan dengan tertabrak mobil. Penulisan yang
tepat pada kesalahan konjungsi intrakalimat sebagai berikut. Seorang anak kecil
mendapat kecelakaan karena tertabrak mobil.
Pada kesalahan
penggunaan konjungsi antarkalimat berfungsi menghubungkan gabungan kata yang
menghubungkan kalimat dengan kalimat atau paragraf dengan paragraf. Dengan
menggunakan konjungsi antarkalimat, siswa dapat menulis karangan dengan
menggunakan konjungsi dengan baik tanpa adanya kesalahan dalam penggunaannya, terutama pada penggunaan
konjungsi antarkalimat. Siswa dapat menggunakan konjungsi antarkalimat dalam
tulisannya atau karangannya tanpa ada lagi kesalahan yang siswa buat.
Beberapa bentuk
penulisan kesalahan penggunaan konjungsi antarkalimat pada siswa yang peneliti
lakukan sebagai berikut. Setelah sampai ke Jakarta lalu turun dari kereta lalu
sampailah di Istiqlal. Penulisan yang tepat pada kesalahan penggunaan konjungsi
antarkalimat sebagai berikut. Setelah sampai ke Jakarta lalu turun dari kereta
kemudian sampailah di Istiqlal. Penulisan kesalahan penggunaan konjungsi
antarkalimat sebagai berikut. Maka dengan itu kita akan terhindar dari banjir.
Penulisan yang tepat pada kesalahan konjungsi antarkalimat sebagai berikut.
Maka dari itu kita akan terhindar dari banjir.
SIMPULAN
Berdasarkan analisis data dan pembahasan dalam
penelitian ini, diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
1)
Kesalahan penggunaan konjungsi yang
ditemukan dalam penelitian ini adalah kesalahan akibat pergeseran fungsi dan
kesalahan akibat cara penempatan atau penulisan konjungsi kurang tepat.
2)
Hasil analisis kesalahan penggunaan konjungsi
dalam karangan deskripsi siswa kelas VIII sebanyak 33 kesalahan penggunaan
konjungsi dalam karangan deskripsi dari 30 siswa. Data kesalahan penggunaan
konjungsi dalam karangan deskripsi menunjukkan bahwa kesalahan penggunaan
konjungsi intrakalimat sebanyak 18 kesalahan, kesalahan penggunaan konjungsi
antarkalimat sebanyak 15 kesalahan. Dengan demikian hasil tertinggi dari hasil
analisis kesalahan penggunaan konjungsi adalah konjungsi intrakalimat dengan 18
dari 30 siswa dan hasil terendah dari hasil analisis kesalahan penggunaan
konjungsi adalah konjungsi antarkalimat dengan 15 dari 30 siswa.
3)
Kesalahan penulisan karangan, khususnya
karangan deskripsi dalam menggunakan konjungsi dapat dipertimbangkan sebagai
bahan ajar yang berguna bagi penyusun kurikulum. Sedangkan bagi guru Bahasa dan
Sastra Indonesia, kesalahan penulisan karangan deskripsi dalam menggunakan konjungsi
bisa digunakan sebagai contoh dalam pembelajaran menulis.
DAFTAR PUSTAKA
Akhadiat,
S. dkk. Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga. 2003.
Alwi,
H. dkk. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. 2003.
Arifin,
E. Z. dan Hadi, F. 1001 Kesalahan Berbahasa. Jakarta: Akademika
Pressindo. 1993.
Chaer,
A. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: PT. Rineka Cipta. 2009.
Hs,
Widjono. Bahasa Indonesia Mata
Kuliah Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi. Jakarta:
Grasindo, 2007.
Irwan
Fachrozi, http://ml.scribd.com/doc/ 47010603/kesalahan-berbahasa,diunduh
pada 15
Juli 2013 Pkl. 20.00
Kridalaksana, H. Kamus
linguistik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 2001.
Maimunah,
S. A. Buku Pintar Bahasa Indonesia. Jakarta: Prestasi Pustaka. 2007.
Sartuni,
R. dkk. Bahasa Indonesia Untuk Perguruan Tinggi. Jakarta: Nina Dinamika. 2000.
Suparno
dan Yunus, M. Keterampilan Dasar Menulis. Jakarta: Universitas Terbuka. 2006.